August 27, 2018

Review Dove Go Fresh Deodorant

Hallo minna-san, apa kabar? Semoga baik-baik ya semua. Jadi sesuai dengan judulnya, kali ini saya mau review salah satu produk yang saya pakai. Apa itu? Okay, nama produknya itu Dove Go Fresh Deodorant. Yakkkk betul deodorant. Kenapa saya pilih review produk ini? Karena saya sukaaaaa sekali dengan si kecil yang banyak membantu hari-hari saya. Langsung saja yaaa.
Jadi, pertengahan bulan Juli lalu saya dapat notifikasi dari Home Tester Club tentang saya yang berhak mendapatkan free sample. Saya kebetulan bulan Juli lalu ada pelatihan mengajar di Johor Bahru, Malaysia selama satu bulan. Jadiiiiii, ketika si sample ini datang ke rumah, saya masih ada di negeri orang. Padahal saya berharap banget bakalan datang sebelum saya berangkat tapi apadaya, yang penting si kecil ini sudah sampai di rumah dengan selamat yuhuuu...... 😂😂
Oke langsung saja ini dia penampakannya, kecil dan penampilannya itu lhooo eye catching banget makanya saya berharap bisa dapat free sample ini.




Pertama kali saya buka tutupnya itu langsung harum yang menyegarkan itu tercium. Menurut keterangannya sih harum dari cucumber alias mentimun perpaduan dengan green tea tapi menurut saya sih wanginya lebih ke bunga-bungaan. Tapi tetap menyegarkan!
Sebelumnya saya pernah pakai varian Dove Deodorant yang original warna biru, itu wanginya menurut saya lebih lembut dibanding wangi si hijau ini. Lalu bagaimana setelah memakainya? Hmmm, karena saya ini orangnya cenderung cepat berkeringat jadi saya pikir produk ini lumayan membantu. Keringat jadi tidak berbau, harumnya cukup tahan lama, dan yang pasti segar. Saya sering berada diluar ruangan dan cukup terbantu dengan si hijau ini. Ini menurut pengalaman saya sendiri setelah seminggu memakainya. Cocok untuk kalian yang banyak beraktivitas di luar ruangan seperti saya.
Mungkin segini dulu ya reviewnya, mungkin next time saya akan update lagi dari si kecil ini. See you!

August 12, 2018

Steril Kucing? Perlu Nggak Sih? Pengalaman Steril Kucing!

Hallo minna-san, apa kabar? Lama ngga nge blog ya hehe maaf soalnya banyak tugas menanti menjelang uas maklum mahasiswi. Gimana lebarannya minna-san? Ada yang mudik? Atau malah jagain rumah orang-orang yang mudik? Sabar ya minna hehee...Jadi kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya steril kucing kesayangan saya di rumah, namanya Pingi. Ada yang udah pernah dengar apa itu steril? Kalau belum saya jelasin dikiiit aja. Jadi, Sterilisasi adalah mengangkat organ reproduksi pada kucing baik itu betina maupun jantan. Kalau jantan biasa disebut "kebiri" (neuter). Dan untuk betina adalah "steril" (spay). Nah, proses sterilisasi ini dilakukan oleh dokter hewan dengan dibius terlebih dahulu. Kemudian, kucing yang sudah disteril biasanya tidak sadarkan diri dan perlu melakukan recovery agar bisa kembali beraktivitas. Saya sendiri sudah mensterilkan 6 kucing saya di rumah dari total 8 ekor kucing. Hmmmm............. Pingi kucing jantan kesayangan saya umurnya 2.5 tahun dan dia gendut banget, harusnya sih udah masuk masa birahi waktu sebelum umur setahun. Tapi dia sampai umur setahun nggak ada keinginan mau kawin dan malah tertarik sama kucing tetangga yg samasama............ JANTAN! Akhirnya daripada terus berlanjut saya bertekad untuk mensterilkan dia. Awalnya saya nggak mau steril kucing jantan saya karena saya pikir mereka nggak akan macam-macam tapi ternyata saya salah. Ternyata kucing jantan pun jika mau umurnya panjang harus steril juga. :(
Pingi 


Hal yang saya takutkan kalau kucing saya disteril adalah pasca sterilnya. Karena kucing saya rata-rata semi outdoor dan kadang malah main sampai lupa waktu di kebun orang. Menurut sumber yang banyak saya cari, kucing pasca steril itu minimal seminggu di dalam rumah dan nggak boleh melakukan aktivitas yang berat. Yak si Pingi ini akhirnya saya pingit selama kurang lebih seminggu didalam rumah, kebetulan saya pun lagi libur kuliah selama sebulan jadi saya bisa sekalian mengawasinya di rumah. Sesekali saya ajak keluar rumah di rooftop, tapi hanya sebentar. Khawatir bila bekas luka operasinya masih basah dan khawatir akan kotor jika berlama-lama di luar rumah. Seminggu itu terasa amat lama karena si kucing nggak bisa keluar dengan bebas seperti biasa. I'm so sorry baby, dan akhirnyaaaa seminggu itupun terlewati. Sekarang sudah setahun lebih setelah Pingi di steril. Manfaat yang saya dapat dari mensteril kucing saya ini apa saja yaaa? Pertama, si Pingi ini jauh lebih anteng di rumah dia jadi jarang banget jalan-jalan keluar rumah. Kedua, kucing jadi playful! Kok bisaaaa? Jelas! Si kucing sudah tidak memiliki hasrat untuk bereproduksi, di dalam pikirannya jadi hanya bemain saja seperti kitten. Dan maaaasih banyak lagi manfaat yang saya dapat dari mensterilkan kucing saya. Yuk, tunggu apa lagi. Kalau kalian cat lover sejati pasti bakalan melek realita dong yaa. Indonesia kita tercinta overpopulasi kucing liar. Hayooo yang punya kucing udah steril kucingnya belum?  





August 06, 2018

Kuliah Itu Santai? Masa Sih?


       Pertama kali saya mendengar kata kuliah, yang terlintas dalam pikiran saya adalah ‘santai’. Beberapa orang terdekat saya yang mana mereka sudah berkuliah mengatakannya kepada saya, bahwa kuliah tidak seperti dulu. Kuliah saat ini cenderung santai, bisa titip absen, mudah mendapatkan nilai baik dan lain-lain. Saya yang saat itu masih bersekolah di bangku kelas 3 SMA percaya saja dengan kata mereka. Saya tidak mempersiapkan diri untuk berkuliah karena yang saya pikir berkuliah itu santai dan tidak seperti yang orangtua katakan. Hingga saatnya tiba saya melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan, saya sedikit bingung dengan sistem belajar yang jauh berbeda dengan saat bersekolah. Ketika itu pula pikiran ‘kuliah santai’ yang bersarang dibenak saya hilang. Kuliah tetap sama sejak dulu, serius dan tidak ada kata santai di dalamnya.

Gambar: https://www.collegechoice.net

            Kuliah bukan hanya perkara duduk dan absen pun terisi, kuliah yang saya jalani bukan seperti yang orang-orang katakan. Bahkan sejak saya memasuki bangku perkuliahan, saya berpikir ingin rasanya untuk kembali lagi menjadi seorang anak SMA dengan seragam abu-abu. Memang jelas di sekolah jauh lebih banyak aturan dan tata tertib, walaupun demikian belajar dibangku perkuliahan jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan saat bersekolah dahulu. Dalam perkuliahan mahasiswa dituntut untuk selalu berpikir kritis, meskipun dosen menjelaskan panjang lebar tentang materi mahasiswa tidak dapat selalu bergantung pada penjelasannya. Dalam mencari materi perkuliahan pun demikian, dosen menyerahkan judul materi lalu kita yang harus berpikir sendiri tentang materi tersebut.
           Di era yang modern ini, perkuliahan pun semakin berkembang ke arah yang lebih maju. Ketika dosen memberikan tugas dan menyuruh mahasiswa untuk mencari bahan belajar, kini telah dipermudah dengan kehadiran internet. Sekarang apapun yang kita cari akan tersedia melalui internet, yang mana fiturnya kini telah berkembang lewat ponsel pintar. Kuliah pada masa kini tidak sesulit dahulu, bahan materi belajar tidak sukar didapatkan. Apa mungkin inilah yang membuat orang-orang berkata bahwa kuliah itu ‘santai’? Menurut saya pribadi perkuliahan walaupun kini tren mencari bahan belajar mudah didapat, kuliah tetap menuntut mahasiswanya berpikir kritis dan memiliki wawasan yang luas. Tidak selalu harus bergantung pada materi yang tersebar luas di internet.
           Memang beberapa materi dapat dicari, namun hal ini tidak harus selalu dilakukan. Jika apapun materi yang dicari tersedia secara percuma di internet, kapan mahasiswa akan berpikir kritis? Mengikuti tren ada baiknya dan ada buruknya, jika memang tren tersebut banyak memunculkan hal yang merugikan dikemudian hari janganlah dilakukan terus menerus. Intinya menurut saya pribadi, perkuliahan itu menuntut mahasiswanya berpikir logis dan kritis dan tidak ada perkuliahan yang ‘santai’ karena semua jenjang pendidikan menuntut keseriusan. Mulai saat ini, mari menjadi mahasiswa yang berpikir logis dan kritis serta jauhi tren yang tidak baik.

 

Shafira's Crib Template by Ipietoon Cute Blog Design