Pertama kali saya mendengar kata kuliah, yang terlintas dalam
pikiran saya adalah ‘santai’. Beberapa orang terdekat saya yang mana mereka
sudah berkuliah mengatakannya kepada saya, bahwa kuliah tidak seperti dulu.
Kuliah saat ini cenderung santai, bisa titip absen, mudah mendapatkan nilai
baik dan lain-lain. Saya yang saat itu masih bersekolah di bangku kelas 3 SMA
percaya saja dengan kata mereka. Saya tidak mempersiapkan diri untuk berkuliah
karena yang saya pikir berkuliah itu santai dan tidak seperti yang orangtua
katakan. Hingga saatnya tiba saya melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan,
saya sedikit bingung dengan sistem belajar yang jauh berbeda dengan saat bersekolah.
Ketika itu pula pikiran ‘kuliah santai’ yang bersarang dibenak saya hilang.
Kuliah tetap sama sejak dulu, serius dan tidak ada kata santai di dalamnya.

Gambar: https://www.collegechoice.net
Kuliah bukan
hanya perkara duduk dan absen pun terisi, kuliah yang saya jalani bukan seperti
yang orang-orang katakan. Bahkan sejak saya memasuki bangku perkuliahan, saya
berpikir ingin rasanya untuk kembali lagi menjadi seorang anak SMA dengan
seragam abu-abu. Memang jelas di sekolah jauh lebih banyak aturan dan tata
tertib, walaupun demikian belajar dibangku perkuliahan jauh lebih melelahkan
dibandingkan dengan saat bersekolah dahulu. Dalam perkuliahan mahasiswa
dituntut untuk selalu berpikir kritis, meskipun dosen menjelaskan panjang lebar
tentang materi mahasiswa tidak dapat selalu bergantung pada penjelasannya.
Dalam mencari materi perkuliahan pun demikian, dosen menyerahkan judul materi
lalu kita yang harus berpikir sendiri tentang materi tersebut.
Di era yang
modern ini, perkuliahan pun semakin berkembang ke arah yang lebih maju. Ketika
dosen memberikan tugas dan menyuruh mahasiswa untuk mencari bahan belajar, kini
telah dipermudah dengan kehadiran internet.
Sekarang apapun yang kita cari akan tersedia melalui internet, yang mana fiturnya kini telah berkembang lewat ponsel
pintar. Kuliah pada masa kini tidak sesulit dahulu, bahan materi belajar tidak
sukar didapatkan. Apa mungkin inilah yang membuat orang-orang berkata bahwa
kuliah itu ‘santai’? Menurut saya pribadi perkuliahan walaupun kini tren
mencari bahan belajar mudah didapat, kuliah tetap menuntut mahasiswanya
berpikir kritis dan memiliki wawasan yang luas. Tidak selalu harus bergantung
pada materi yang tersebar luas di internet.
Memang
beberapa materi dapat dicari, namun hal ini tidak harus selalu dilakukan. Jika
apapun materi yang dicari tersedia secara percuma di internet, kapan mahasiswa akan berpikir kritis? Mengikuti tren ada
baiknya dan ada buruknya, jika memang tren tersebut banyak memunculkan hal yang
merugikan dikemudian hari janganlah dilakukan terus menerus. Intinya menurut saya
pribadi, perkuliahan itu menuntut mahasiswanya berpikir logis dan kritis dan
tidak ada perkuliahan yang ‘santai’ karena semua jenjang pendidikan menuntut
keseriusan. Mulai saat ini, mari menjadi mahasiswa yang berpikir logis dan
kritis serta jauhi tren yang tidak baik.
Ku suka! semoga bermanfaat untuk banyak orang
ReplyDeleteBenar sekali, saya setuju dengan anda
ReplyDeleteSetuju! Semoga bermanfaat untuk mahasiswa mahasiswa
ReplyDeleteSetuju,dengan Kemajuan teknologi saat ini perkuliahan memudahkan mahasiswa
ReplyDeleteMenurut saya blog ini sudah bagus dan jelas☺
ReplyDeleteMengapa mahasiswa dituntut hrs berpikir kritis ?
ReplyDeletePada paragraf terakhir terdapat kalimat : "Memang beberapa materi dapat dicari, namun hal ini tidak harus selalu dilakukan. Jika apapun materi yang dicari tersedia secara percuma di internet, kapan mahasiswa akan berpikir kritis?"
ReplyDeleteSaya kurang setuju dengan kalimat sindiran tersebut karena berpikir kritis tidak ada hubungannya dengan mencari materi di internet. Seharusnya kamu lebih menekankan pada tindakan plagiarismenya, bukan tren mencari materi di internetnya, karena lewat internet kita bisa mendapat banyak sekali jurnal dan ebook yang dapat kita gunakan untuk membantu kita melengkapi tugas kuliah, yang menjadi masalah bukan dimana kita mencari materinya, tapi tindakan plagiarisme nya, karena masih banyak juga mahasiswa yang menjiplak penuh seluruh kalimat maupun paragraf tanpa memberi kredit pada penulis aslinya. Mereka berfikir hanya dengan mencantumkan sumber di daftar pustaka tanpa memberi kutipan dalam kalimat atau paragraf yang dia jiplak itu berarti dia sudah terbebas dari tindak pidana plagiarisme, padahal kenyataannya tidak
Terkadang apa yang kita pikirkan tidak sesuai kenyataan. Tapi mungkin itulah yang terbaik 😊
ReplyDelete